AIR MATA RASULULLAH SAW

Assalamualaikum warohamtullahi wabarakatuh,

Hari ini 5 September 2013, saya masih berada di kediaman nenek saya di Jogja, senang sekali rasanya bisa terus menemani nenek yang amat saya sayangi ini J. Nenek sering berbagi cerita tentang masa lalunya, memberi nasehat tentang agama, tentang kehidupan dan masih banyak lagi. Kali ini nenek saya memberi selembaran cerita yang berjudul “air mata Rasulullah SAW”. Setelah saya baca, ada rasa pilu dan sedih. Yuuuuk baca apa yang saya baca,

 AIR MATA RASULULLAH SAW

Tiba tiba dari luar pintu terdengar seseorang yang berseru mengucapkan salam

“Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannnya masuk

“Maafkanlah, ayahku sedang demam”, kata Fatimah yang membalikan badan dan menutup pintu

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fatimah.

“siapa itu wahai anakku?”

“Tak tahulah ayahku. Orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya.” Tutur Fatimah dengan lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang  menggetarkan. Seolah olah bagian demi bagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

“ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara. Dialah yang memisahkan pertemuan dunia. Dialah malaikatul maut.” ujar Rasulullah. Fatimah pun menahan ledakan tangisannya. Malaikat maut pun menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti  di hadapan Allah?”. Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.

“pintu – pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.”

“semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu.” Kata Jibril

Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya penuh kecemasan.

“engkau tidak senang mendengar kabar ini?”, Tanya Jibril lagi.

“kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”

“jangan khawatir wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya “ Kata Jibril.

Detik – detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimabah peluh, urat – urat lehernya menegang.

“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam. Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

“jijikkah kau melihatku hingga kau palingkan wajahmu Jibril?”. Tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu.

“siapakah yang sangggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal.” Kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah menaduh karena sakit yang tidak tertahankan lagi.

“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.

“Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku”

“peliharalah shalat dan peliharalah orang – orang lemah di antaramu.”

Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatiii, ummatiii, ummatii?” – “Umatku, umatku, umatku”.

Dan berakhirlah hidup manusia mulian yang memberi sinaran itu. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita, Kini mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholi ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s